Rabu, 26 November 2014
23:59 WIB
KeIslaman

Baiat dalam Pandangan Al-Quran dan As-Sunnah (bag.2)
Tiada sembahan yang layak Selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah, di setiap kedipan dan nafas (makhlukNya), dan sejumlah luasnya Ilmu Allah
Materi baiat
tidak lain adalah perintah untuk Dzikrullah
Minggu, 14 Oktober 2012

AL-IDRISIYYAH.COM, Melanjutkan pembahasan tentang bai'at dalam pandangan Al-Quran dan As- Sunnah maka di dalam tarekat Al-Idrisiyyah dibijaki materi-materi baiat yang wajib di laksanakan oleh sang murid setiap harinya yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Rosulullah SAW serta para pewaris beliau, materi ini diberikan saat calon murid mendapatkan Ijazah dari Mursyidnya. Adapun materinya sebagai berikut :

Materi Bai’at

  1. Membaca Al-Quran

Al-Idrisiyyah membawa ajaran Al-Islamiyyah yang memiliki sumber utama Al-Quran. Murid diharapkan dapat mengembalikan segala urusan dan menentukan segala kebijakannya kepada Al-Quran. Dengan membacanya akan dapat menerjemahkan dengan baik, mengamalkan, membawa nilai-nilai Al-Quran dalam setiap perilaku dan tindakan (berakhlaq Qurani).[13]

Bagi murid yang sedang dalam perjalanan (musafir), sakit yang menyulitkan, atau dalam kesibukan yang memberatkan, kewajiban ini dapat diganti dengan membaca Surat Al-Fatihah sebanyak 25 kali. [14]

2. Membaca Istighfar

Jiwa manusia telah distempel dengan kebiasaan salah dan dosa[15]. Manusia harus bermujahadah menghindarinya. Walaupun diperangi, dosa tetap ada walaupun kecil atau tidak sengaja melakukannya.[16]

Sebaik-baik pendosa adalah orang yang bertaubat kepada Allah. Innallaaha yuhibbut tawwabiina wa yuhibbul mutathoh-hiriin [Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan dirinya, Q.S. Al-Baqarah: 222][17] Bertaubat merupakan solusi bagi yang berdosa. Langkah pertama taubat diawali dengan mengucapkan lafazh Istighfar ‘Astaghfirullaah [أَسْتَغْفِرُ اللهَ]’ Dan dalam Tarekat Al-Idrisiyyah diiringi dengan bacaan Istighfar Kabir.

Bacaan istighfar dalam sehari semalam adalah sebanyak 100 kali. Dan diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw dalam sehari semalam beristighfar sebanyak 100 kali.[18]

Jiwa seseorang selalu dibersihkan Allah SWT jika setiap melakukan dosa, ia bertaubat. Jika tidak, jiwanya akan dipenuhi kotoran. Nur (cahaya) Allah berupa bimbingan-Nya melalui petugas-Nya tidak bisa masuk ke dalam jiwa tersebut.

Beristighfar selalu diiringi dengan mengevaluasi kekurangan diri. Orang yang tidak mau beristighfar mengindikasikan dirinya takabbur kepada Allah SWT, karena merasa dirinya bersih (tidak berdosa).

3. Melafazhkan Dzikir

Jika jiwa dibangun dengan kalimah-kalimah Allah, maka akan menghasilkan energi positif, membangun karakter yang disifati oleh Nama-nama Allah yang disebutnya. Sebaliknya jika jiwa jauh dari dzikir (ingat) kepada Allah, maka syetanlah yang akan bercokol di dalamnya.[19]

Firman Allah:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ ﴿البقرة: ١٥٢﴾

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[20], ..

Lafazh dzikir dalam Tarekat Al-Idrisiyyah adalah:

لآَ إِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ  وَّنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَه عِلْمُ اللهِ.

ِArtinya: “Tiada sembahan yang layak Selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah, di setiap kedipan dan nafas (makhlukNya), dan sejumlah luasnya Ilmu Allah”.

Kalimat dzikir tersebut merupakan formulasi yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada Syekh Ahmad bin Idris. Dzikir tersebut meliputi dzikir kepada Dzat, Ilmu dan Af’al Allah. Sehingga di dalamnya memiliki keutamaan yang luar biasa. Ketika memberikan dzikir ini kepada Syekh Ahmad bin Idris, Rasulullah Saw menyatakan bahwa dzikir ini merupakan gudang langit dan bumi.

Dalam riwayat yang disebutkan dalam kitab Afdholush Sholawat,[21] Rasulullah Saw menegaskan kepada Syekh Ahmad bin Idris bahwa barangsiapa yang menjadi murid engkau atau menisbahkan kepada engkau (maksudnya masuk ke dalam kepemimpinan Ilahiyyah), maka aku yang akan menjadi penanggungjawabnya di akhirat kelak.

Dzikir tersebut dibaca minimal sebanyak 300 kali. Maksimalnya adalah dzikron katsiiroo, yakni tidak ada batasnya (tak terhingga). Banyak berdzikir akan mengikatkan diri dengan tali bimbingan-Nya sehingga menjadi jelas jalan menuju kepada-Nya.

4. Membaca Sholawat

Sebagai ungkapan rasa syukur (terima kasih), bentuk manifestasi kerinduan kepada Beliau Saw. Dalam Firman-Nya diungkapkan bahwa Allah beserta para malaikat menyampaikan sholawat dan salam kepada Beliau Saw.[22] Kita diperintahkan untuk berakhlak sebagaimana yang telah Allah dan para malaikat perbuat, yakni bersholawat kepada Beliau Saw.

Shighat (bentuk) bacaan yang sederhana adalah sholawat Ummy yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak 100 kali sehari semalam.

اَللّـهُمَّ صَلِّ وَعَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلىَ ألِه وَصَحْبِه وَسَلِّمَ.

Artinya: “Yaa Allah sampaikanlah shalawat atas pemimpin kami, Muhammad SAW, seorang Nabi yang Ummiy, dan atas keluarga dan para sahabatnya”.

Dan untuk meningkatkan kecintaan dan kerinduan kepada Beliau Saw adalah membaca Sholawat ’Azhimiyyah. Sebab cikal bakal sholawat tersebut adalah sholawat[23] yang dilantunkan oleh Pelopor Tarekat ini yaitu Al-’Arif billah Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh, sebagai ungkapan kerinduan yang sangat kepada Rasulullah Saw.[24]

5. Membaca kalimat Istighatsah (Yaa Hayyu Yaa Qoyyum)

Jiwa mesti teguh, istiqamah dan tegak berdiri.[25] Dalam metodologi tasawuf, apabila kalimat tersebut dibaca efek sampingnya adalah membentuk karakter nama (asma) yang disebut tadi. Jiwa dihidupkan oleh Al-Hayyu, dan dimandirikan oleh Al-Qoyyum. Jiwa yang diteguhkan tersebut tidak mudah terprovokasi dan terombang ambing oleh kehidupan globalisasi yang penuh dengan tantangan, propaganda kebatilan yang menghalangi jalan menuju kepada Allah. Begitu pentingnya Asma ini, sehingga perlu dibaca sebanyak 1000 kali sehari semalam.

6. Membaca kalimah Mulkiyyah

لآ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُميْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: “Tiada sembahan yang layak selain Allah, Yang Esa lagi tiada sekutu bagiNya. Dia Yang memiliki Kerajaan, Dia yang memiliki Pujian, Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia  Berkuasa atas segala sesuatu”.

Inilah kalimat pengukuhan kita sebagai hamba terhadap eksistensi keberadaan Allah sebagai Al-Ma’bud (Yang patut disembah), yang selama ini direbut oleh kebanyakan manusia dengan menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahan[26]. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا ﴿الفرقان: ٤٣﴾

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

7. Taqwa kepada Allah.

Sebagai wasiat Allah dan Rasul[27]. Untuk mencapai ketaqwaan ini mesti diawali dengan wawasan pengetahuan Dinul Islam yang diperoleh melalui majelis pengajian lewat bimbingan Syekh Mursyid.



13. Sabda Nabi Saw: “Hiasilah rumahmu dengan bacaan Al-Quran!” Dengan bacaan Al-Quran akan mendidik anak dan keluarga dekat dengan Al-Quran sebagai sumber petunjuk. Membiasakan bacaan Al-Quran di rumah berarti meletakkan dasar-dasar agama bagi keluarganya. Jika anak-anaknya memiliki kualitas pendidikan yang rendah dan kelakuannya buruk, di antaranya adalah tidak memperkenalkannya dengan pendidikan agama di antaranya adalah dengan menghiasi bacaan Al-Quran di rumahnya.

14. Perumpamaan pengganti awrad membaca Al-Quran ini dengan bacaan Surat Al-Fatihah adalah seperti ban serep, atau pengganti makanan pokok. Pengganti ini hanya digunakan sewaktu-waktu saja bagi yang sehat fisiknya.

15. Manusia adalah tukang dosa, yakni sering salah dan lupa. Disebut ‘tukang’ karena ahli melakukannya.

16. Ibarat rumah, walaupun tidak sengaja dikotori masih tetap kotor, dan perlu disapu setiap hari. Apalagi rumah kita sengaja dimasukkan sampah ke dalamnya. Begitu pula dengan jiwa kita, meski kita berusaha menghindar, dosa tetap ada. Dengan lupa kepada Allah saja dianggap sebagai dosa.

Perumpamaan dosa sebagai kotoran yang mengganggu adalah seperti orang yang makan petai atau jengkol. Jika tidak dibersihkan akan mengganggu (menyakiti) orang lain, bahkan ruhani suci (malaikat). Begitu pula perokok, tidak hanya menimbulkan polusi tapi juga merugikan kesehatan baik perokok aktif maupun yang pasif. Para malaikat menjauhi bau asap rokok. Praktek perdukunan biasanya membakar kemenyan yang menimbulkan bau menyengat, sebagai media mendatangkan ruh yang batil. Kita bisa menyaksikan ketika orang merokok, ia termenung sambil berkhayal. Karena sedang ditemani dengan ruh yang batil. Rokok itu bau dan merusak. Sebaliknya saat seseorang berpakaian bersih dan menggunakan wangi-wangian, para malaikat mengelilinginya.

17. Kata ‘Tawwaabun’ menggunakan wazan ‘fa’-’aalun’ yang menunjukkan perbuatan dilakukan berkali-kali (berulang-ulang). Allah menyukai orang yang bertaubat dan bersih-bersih. Allah menyukai orang yang bersih pakaiannya, rumahnya. Para malaikat pun demikian.

18. Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 1288. Hadits no 6307)

Imam Muslim rahimahullah berkata di dalam Shahihnya, di kitab adz-Dzikr wa ad-Du’aa’ wa at-Taubah wa al-Istighfar:

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Ghundar menuturkan kepada kami dari Syu’bah dari Amr bin Murrah dari Abu Burdah, dia berkata: Aku mendengar al-Agharr dan dia adalah termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia menyampaikan hadits kepada Ibnu Umar. Ketika itu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Kerana sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (Shahih Muslim yang dicetak bersama syarah-nya jilid 8, hal. 293. Hadits no 2702)

19. وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ﴿الزخرف: ٣٦﴾

Barangsiapa yang berpaling dari Ingat kepada Allah Yang Pemurah, kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Sifat Rahman yang memberi karunia kepada siapapun, baik yang ingat maupun tidak.

20. Ingat Allah kepada makhluk-Nya berupa bimbingan.

21. Karya Syekh Yusuf An-Nabhani.

22. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿الأحزاب: ٥٦﴾

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

23. Dalam sholawat ‘Azhimiyyah disebutkan panjatan do’a: wajma’ baynii wabaynahuu [واجمع بيني وبينه] ‘kumpulkanlah aku dengan Beliau Saw’. Kalimat tersebut pada awalnya dilantunkan oleh Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh melalui sholawat yang diberikan oleh Nabi Khidhir As.

24. Dalam Kitab Al-Ibriz diceritakan bahwa sejak baligh Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh hatinya senantiasa rindu kepada Rasulullah Saw. Setiap malam Jum’at beliau berziarah ke tempat-tempat Wali di Maghrib ketika itu. Mulai Isya hingga terbit fajar beliau melantunkan sholawat.

25. فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿هود: ١١٢﴾

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu.

26. Memperturutkan hawa nafsu berarti menyembah merebut eksistensi Allah yang layak disembah.

27. Dalam beberapa hadits disebutkan: Ushiikum bitaqwallah [Aku berwasiat kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah]. Ittaqillaaha haytsu maa kunta [Bertaqwalah di manapun kamu berada].

 

A A A