Jum'at, 19 Desember 2014
04:36 WIB
KeIhsanan

Fungsi Agama adalah perubahan
Salah satu fungsi majelis ilmu dan dzikir adalah untuk melakukan perubahan. Manusia suka dengan dengan perubahan.
Fungsi Agama adalah Perubahan
Fungsi utama agama adalah untuk melakukan perubahan.
Kamis, 20 Desember 2012

Salah satu fungsi majelis ilmu dan dzikir adalah untuk melakukan perubahan. Manusia suka dengan perubahan. Orang-orang penggerak kemajuan dan pendobrak cita-cita besar tidak menyukai kondisi statis yang menghalangi perubahan, termasuk para pemimpin politik (penguasa) saat ini. Obama sebelum menjadi Presiden AS mengkampanyekan ‘perubahan’. Gagasannya diminati banyak rakyat Amerika, sehingga ia berhasil menjadi Presiden. Setelah mendekati akhir jabatannya, slogan yang diusung adalah ‘lanjutkan!’ Maksudnya setelah mengalami perubahan, perubahan itu dilanjutkan terus. Ringkasnya jika ada perubahan perlu dilanjutkan, dan jika tidak ada maka jangan lanjutkan.

Islam adalah agama perubahan. Dalam Al-Quran perubahan diistilahkan dengan ‘ikhraj’ (اخرج), yukhrijuhum minazh zhulumaati ilannuur,[1] mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang. Inilah alasan para Nabi diutus kepada manusia.

Zhulumaat (ظلمات) dalam ayat tersebut adalah jama’ dari zhulmun (ظلم), menunjukkan kegelapan memiliki banyak sumber. Kegelapan yang banyak itu berasal dari kemaksiatan, kezhaliman, munkarat, dan lain-lain. Sedangkan ‘nur’ (نور) atau cahaya itu menggunakan mufrad (kata tunggal), yang menunjukkan sumber cahaya itu satu, yakni Allah SWT.

Fungsi utama agama adalah untuk melakukan perubahan. Jika seseorang beragama pasif yang hanya KTP saja (Islam Pasport), tapi tidak ada perubahan pada dirinya maka ia dinilai tidak beragama.

Perubahan pertama yang dicapai lewat majelis dzikir dan ilmu adalah pemikiran. Setiap orang melakukan sesuatu dimulai dari berfikir yang menciptakan niat dan diakhiri dengan aksi. Setiap orang yang bersungguh-sungguh menjalankan agamanya dengan menghadapkan segenap jiwa raganya pasti akan mengalami perubahan.

Seseorang yang serius menjalankan agamanya tentu mengkaji dan menghayati terus ajaran yang diyakininya itu melalui media majelis ilmu dan dzikir. Seseorang yang diberikan pencerahan dalam pemikirannya akan berfikir dan mempertimbangkan apa yang akan diputuskannya dengan teliti. Jika satu moment majelis yang menciptakan perubahan dirinya begitu berharga maka tidak akan ia lepaskan tanpa alasan berarti. Sebab, baginya moment keutamaan hari itu tidak sama dengan hari berikutnya. Ia menyadari kepastian usia dan kesehatannya esok hari bukan berada dalam genggamannya. Awal kesadaran pemikiran ini menyebabkan ia begitu menghargai setiap waktu dan kesempatan. Berbagai alasan dan pertimbangan nafsu yang menghalanginya untuk meraih keutamaan dan kesempatan untuk berubah berhasil ia taklukkan.

Ketika pemikirannya berhasil berubah dan mengalahkan berbagai alasan tersebut maka kakinya bisa melangkah dan seluruh anggota tubuhnya bisa bergerak. Bahkan kendaraan, sanak keluarga, sahabat karibnya ikut bergerak turut menyertainya. Semuanya bergerak jika pemikirannya bergerak.

Agama mengubah dan menggerakkan pikiran, dari yang bengkok menjadi lurus. Pribadi-pribadi yang terbelakang berubah menjadi individu yang berpikiran maju ke depan. Para sahabat Nabi sebelumnya hanya memikirkan pangan, sandang, papan saja. Dan setelah mereka beriman dan dalam bimbingan Islam, pemikirannya menjadi mendalam dan jauh jangkauannya hingga alam yang yang abadi.

Manusia diberi akal untuk berfikir. Inilah yang membedakannya dengan hewan ternak. Jika sejak kecil hingga hari tuanya hanya berfikir untuk masalah makan minum saja, maka tak ada beda pola hidupnya dengan hewan ternak. Padahal manusia diberikan potensi luar biasa, pemikirannya bisa menjangkau alam yang kekal, jiwanya bisa mengenal Allah.

Islam mengubah pola pikir manusia yang hanya memikirkan dunia fana kepada kehidupan yang abadi. Seseorang yang telah berubah akan berfikir menerawang jauh ke depan hingga memikirkan bagaimana nasibnya nanti di akhirat, apakah ia selamat atau celaka, mendapat ridha Allah atau tidak.

Agama melakukan fungsi perubahan individu hingga kepada perubahan kolektif (sosial). Keluarga dan masyarakat akan mendapatkan sentuhan perubahan kepada arah yang positif. Langkah perubahan ini akan mengalami kendala dari sisi internal dan eksternal. Secara internal kendala perubahan berasal dari faktor kebiasaan pribadi, seperti kemalasan. Kebiasaan buruk ini mesti dilawan dengan kesadaran pribadinya untuk mengubahnya.

Adapun faktor eksternal, langkah perubahan mengalami tantangan dari individu maupun kelompok. Pelaku perubahan mesti berani menghadapi tantangan tersebut. Hal demikian pernah dialami dan dilakukan oleh para Utusan-Nya di setiap masa.

Lq, 20 Des ‘12

 

Lihat juga artikel lanjutannya: Dianggap ‘Orang Gila’



[1][1] Q.S. Ibrahim: 1 & 5, Al-Maidah: 16. RA. Kartini mengadopsi ayat ini menjadi semboyan perjuangannya ‘Habis gelap terbitlah terang'.

A A A