Rabu, 22 Oktober 2014
13:47 WIB
KeIhsanan
Dalam Perspektif Al Quran
PENYAKIT GHAFLAH (LALAI)
Kondisi yang sangat memprihatinkan ketika hati manusia menjadi ghaflah (lalai) kepada Yang menciptakannya sehingga membuat ilmu pengetahuan dijadikan senjata untuk melakukan kejahatan.
Ghaflah
Lalai kepada Allah Swt adalah penyakit yang amat membahayakan.
Sabtu, 21 Desember 2013

Kita semua hidup dalam zaman yang sangat modern (post modern). Berbagai informasi begitu melimpah.[1] Ilmu pengetahuan atau sains teknologi terus ditemukan atas kemurahan Allah bagi umat manusia.[2] Akan tetapi acap kali kemajuan sains ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi yang begitu berlimpah bagi umat manusia sering disalahgunakan (disalahfungsikan). Dampak-sampak negatif itu tidak bisa terbentung. Semestinya ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia semakin bersyukur kepada Allah, mengenal kebaikan dan kemurahan-Nya, mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan hidupnya. Akan tetapi sering malah sebaliknya. Apa yang menjadi faktor sehingga kondisi umat manusia seperti ini.

Al Quran sering menyebut penyakit batin, qalbu (hati), salah satunya adalah ghaflah. Dalam berbagai bentuk Allah sebut dalam bentuk kata mashdar ghaflah atau isim fa’il (subyek) غافل ghaafilun. Ghaflah artinya lalai. Pengertian lalai di sini ditujukan (dikaitkan) kepada hati. Boleh jadi pelajar-pelajar kita pengetahuannya banyak alias banyak yang diketahuinya akan tetapi tindakan-tindakan sosial begitu sering dalam kehidupan kita.

Persoalannya adalah hati ketika ghaflah (lalai) kepada Yang menciptakan manusia membuat ilmu pengetahuan manusia menjadi porak poranda. Pengetahuan manusia akhirnya menjadi senjata untuk memutarbalikkan fakta. Banyak ahli hukum tapi justru menjualbelikan hukum. Inilah kondisi yang sangat memprihatinkan.

Ghaflah dalam Al Quran maksudnya lalai kepada Allah Swt. Dalam ilmu tasawuf dikenal dengan pintar lisannya & bodoh hatinya [’aalimul lisaan jaahilul qalbi]. Jenis manusia pertama cerdas hati, karena menyambung kepada Allah membuat seluruh panca inderanya menjadi peka (berfungsi dengan baik) untuk kemajuan diri dan orang lain. Jenis kedua bodoh hati, lalai hatinya akan Allah, pengetahuan dan panca inderanya tidak berfungsi dengan baik sehingga membuat porakporanda kehidupan ini.

Firman Allah Swt,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang zhahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka mengenai (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Q.S. Ar-Rum: 7).

Mereka sebagian besar manusia mengetahui kehidupan dunia ini hanya sisi lapisan luar saja tidak mengetahui hakikat kehidupan. Artinya menjadikan dunia ini sebagai tujuan, harapan yang besar, kehidupan yang abadi.

Manusia ingin berlomba-lomba meraih kenikmatan dunia, dan menjadikannya sebagai tujuan. Mereka tidak mengetahui hakkat kehidupan dunia.

Hakikat kehidupan dunia adalah media, alat, sarana untuk akhirat yang abadi. Ilmu, fakta dan realitas kehidupan telah membuktikan bahwa tidak ada manusia yang hidup selamanya di dunia, dari satu generasi ke generasi selanjutnya hanya melewati kehidupan sementara menuju kepada kehidupan akhirat yang abadi.

Hakikat kehidupan dunia yang kedua adalah ujian dari Allah. Kehidupan dunia ini penuh dengan ujian. Kita terlahir ke muka bumi ini tanpa meminta. Selanjutnya diberikan kenikmatan demi kenikmatan, semuanya adalah ujian. Di dalam kehidupan dunia ini ada unsur positif dan negatif, takdir baik dan buruk.

Manusia-manusia yang hanya mengetahui kehidupan dunia ini dari sisi luar saja hatinya lalai akan akhirat. Bukan mereka tidak mengetahui tentang adanya akhirat. Semua kehidupan dan ciptaan Allah adalah berpasang-pasangan, سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ Yang Suci Allah, yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan pada diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui."[3]
Ada hidup dan mati, sehat dan sakit, untung dan rugi, kehidupan dunia dan akhirat.

Mereka bukannya tidak tahu adanya kehidupan akhirat yang abadi sebagai tempat balasan Allah. Persoalannya bukan karena pengetahuan tapi penyebabnya adalah hatinya ghaflah (lalai) sehingga pengetahuannya menjadi tidak berfungsi (bermanfaat). Analisisnya tumpul karena hatinya lalai kepada Allah Swt.

Inilah penyakit berbahaya yang tidak disadari oleh umat manusia.

Firman Allah Swt,

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka (hari Kiamat).

Semakin dekat balasan kepada manusia. Balasan akhirat yang sesungguhnya, sangat ketat, detail (terperinci), hisaaban yasiiroo, jazaa-ul awfaa. Semakin dekat umur manusia terus digerogoti oleh pergerakan waktu. Waktu tidak bisa berhenti apalagi mundur. Terus bergerak dan bergerak. Inilah ketetapan Allah dan manusia tidak bisa keluar darinya.

Tapi sayangnya, sungguh akal sehat membenarkan, realitas kehidupan telah membuktikan sunnatullah hal tersebut, tapi mereka dipanggil (diseru) oleh Allah dan Rasul-Nya berpaling (membangkang) karena hatinya lalai. Mereka terus berpaling tidak mau memenuhi perintah Allah. Mereka tidak sadar bahwa umurnya semakin berkurang dan dekat dengan hisab (perhitungan) Allah. Hatinya tidak peka dan selalu menginginkan syahwat kehidupan.

Potret kehidupan manusia yang selalui diwarnai peyelewengan, melawan hukum, tindakan kriminal, korupsi terus marak dan tidak menjadi jera. Terbongkarnya satu kasus demi kasus tidak menjadikan pembelajaran berharga. Laahiyatan quluubuhum [لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ],[4] hal itu disebabkan hatinya lalai kepada Allah Swt. Ketika qalbu manusia terputus dari Yang Menciptakannya (Allah Swt) maka panca indera, hidup dan kehidupan ini tidak akan menjadi pelajaran berharga bagi diri mereka. Betapa berbahayanya hati yang lalai dari Allah Swt.

Tentu sebagai orang yang beriman mesti menghindar dari penyakit berbahaya ini dengan banyak membaca istighfar. Rasulullah Saw menjanjikan bagi orang banyak beristighfar akan diberikan solusi (jalan keluar) yang terbaik selain diampuni dan disayang Allah. Selain itu akan dihilangkan rasa bingung, sedih, gundah gulana yang disebabkan oleh dosa-dosa. Selanjutnya Allah berikan kepadanya rizki tidak disangka-sangka dan di luar perhitungannya (tapi ada dalam perhitungan Allah). Inilah bukti sayangnya Allah kepada mereka yang banyak beristighfar dan taubat (kembali) kepada Allah.

Qalbu kita akan semakin dibersihkan dari noda dan dosa. Semakin dibersihkan hatinya akan semakin butuh kepada-Nya. Hatinya semakin peka dala menjalani kehidupan. Kita akan berani berbagi, siap membantu menyebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi umat manusia. Inilah tanda hati yang terhindar dari penyakit ghaflah. Hatinya bangkit dan terus menghadap kepada Allah Swt. [Lq]

 

Sumber: Khutbah 13 Desember 2013



[1] Banjir informasi ditandai dengan informasi dari NASA, bahwa tidak kurang dari 600 satelit beredar mengelilingi bumi Masing-masing Negara berlomba untuk mengorbitkan satelitnya.

[2] Saat ini informasi dan pengetahuan bisa diakses melalui segenggam HP (Hand Phone).

[3] QS Yaasiin: 36.

[4] Hati mereka lalai (QS. Al-Anbiya’ [21]: 3).

A A A