Rabu, 1 Oktober 2014
05:57 WIB
KeImanan

MENJADI HAMBA YANG DIRIDHAI ALLAH SWT
Karena predikat 'hamba' pada diri Nabi Muhammad Saw begitu tinggi dan mulia di hadapan Allah SWT, maka bagi umat Beliau dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Beliau Saw
Menjadi Hamba
Yang di Ridhai ALLOH
Rabu, 22 September 2010

MENJADI HAMBA YANG DIRIDHAI  ALLAH SWT

Oleh: Syekh Muhammad Fathurahman MAg


Peringatan Isra Mi'raj di Jakarta, Ahad, 1 Agustus 2010

Yang Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Mendengar lagi Melihat. (QS. 17:1)

Nabi Muhammad Saw di Isra' Mi'rajkan disebabkan karena Beliau menghambakan diri kepada Allah Saw. Tampaknya di mata orang banyak, kata-kata hamba ini terlihat begitu kurang berharga. Padahal predikat hamba itu begitu tingginya di sisi Allah. Mengapa Allah berfirman : Subhaanalladzii asroo bi'abdihii, bukan Subhaanalladzii asroo bi'Muhammadin?

Itu menunjukkan bahwa kata 'Abdi ('Abdun) itu sangat tinggi nilainya dan Nabi Muhammad Saw yang pertama kali menerimanya dengan cara yang sempurna, sehingga diberi hadiah istimewa (di-Isra' dan di-Mi'raj)kan Allah SWT ke Hadhirat-Nya di Sidrah al-Muntaha.

Mengapa kita merasa rendah diri dengan istilah 'Hamba'? Jika ada lelang Infaq-Sedekah untuk pembangunan Masjid misalnya, kalau uang yang diinfaqkan sebesar satu juta atau 500 ribu rupiah, maka disebutkan nama orang yang menyumbang. Tapi kalau uang yang disumbang hanya Rp10.000, maka di mikrofon akan terdengar dari pengatur lelang : "Dari hamba Allah 10 ribu rupiah". Seharusnya dana yang diinfaqkan satu juta atau 500 ribu itulah yang harus disertai dengan "Hamba Allah" (Abdun). Ini pertanda bahwa niatnya berinfaq masih dipertanyakan apakah belum ikhlas karena Allah, atau karena ada sesuatu yang lain?

Karena predikat 'hamba' pada diri Nabi Muhammad Saw begitu tinggi dan mulia di hadapan Allah SWT, maka bagi umat Beliau dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Beliau Saw. Dalam ajaran Al-Idrisiyyah, dianjurkan murid-muridnya melafalkan Sholawat sebanyak 100 kali sehari semalam. Jama'ah Al-Idrisiyyah dianjurkan mengamalkan Shalawat 'Azhimiyah, Shalawat Fathihiyyah  dan Shalawat Ummiy, agar mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah Swt karena mencintai Nabi Saw melalui banyaknya bersholawat kepada Beliau Saw.

Manusia dalam bahasa Arab disebut sebagai al-Basyar atau al-Insan. Al-Insan inilah yang dimaksaud dengan 'hamba' yang terdiri dari dua dimensi, yaitu dimensi ruh dan dimensi jasad (fisik). Bila menyatu antara dua unsur ini, maka dinamakanlah 'Insan' (manusia). Tapi kebanyakan manusia merasa bahwa dirinya hanya terdiri dari unsur fisik (jasad) saja, dan melupakan unsur ruhani yang yang menghidupkan jasad (fisik)nya. Dari pemahaman yang salah inilah menyebabkan munculnya banyak permasalahan di tengah kehidupan. Mereka merasa tidak akan kembali kepada Allah, sehingga kehilangan keyakinan seperti ini menimbulkan beragam penyakit dalam diri manusia.

Agama Islam adalah agama bimbingan, agama yang dituntun oleh Allah langsung lewat petugas-petugas-Nya. Karena itu orang yang dibimbing agamanya oleh Allah, akan mendapat predikat 'hamba'. Jangankan kita (para hamba-Nya) yang lemah, Nabi Muhammad Saw saja dibimbing oleh Allah lewat Jibril As menerima ayat-ayat al-Quran selama 22 tahun 6 bulan (baca: menerima ajaran-ajaran islam yang tertuang dalam ayat-ayat yang diwahyukan – pen). Jika Nabi Muhammad Saw menerima al-Quran sekaligus (serentak dalam satu waktu), Beliau tak akan sanggup. Ajaran-ajaran agama Islam itu terkandung dalam semua ayat al-Quran, lalu direalisasikan dan dijelaskan lewat perilaku nabi dalam kehidupan sehari-hari yang disebut dengan As-Sunnah (Al-Hadits). Mengingat bimbingan itu sangat penting, maka ilmu yang baru diterima walaupun sedikit, langsung diamalkan. Itukah hakikat ajaran Islam. Bukan menerima seabreg-abreg (sebanyak-banyaknya) ilmu (seperti para sarjana sampai bergelar doktor, profesor yang menerima sebanyak-banyak ilmu, tapi aplikasi (prakteknya) NOL).

Ulama besar masa lalu, Jalaludin Rumi (yang dzikirnya terkenal dengan dzikir berdiri dan berputar) mengatakan :"Setetes sperma apabila disimpan di tempat yang tidak semestinya (di bejana emas, perunggu atau logam misalnya), 15 (lima belas) menit akan mati! Dengan bimbingan seorang ibu yang ditaruh dalam rahimnya (tempat yang semestinya), maka ia menjadi mulia.

Firman Allah SWT:

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) [Al-Mukminun: 13].

Coba kalau ditaruh di bejana emas tadi, walau pun tempatnya sangat berharga dan mahal, tapi sperma yang ditaruh di dalamnya tidak ada harganya sama sekali, bahkan dijamin sperma itu menjadi hina. Begitu juga manusia yang tidak dibimbing, banyak manusia yang menjadi hewan. Mereka mempunyai banyak penyakit batin yang sulit diobati. Di antara penyakit batin itu adalah hubbu dunya (cinta dunia berlebih-lebihan), suka berpecah-belah, rakus, tamak, suka menggunjing orang lain, dengki, iri dan banyak sekali.

Manusia tidak bisa beribadah kepada Allah, tanpa dibersihkan terlebih dahulu hatinya. Karena penyakit-penyakit batin itu bersarang di hati (qalb)nya, maka ia merasa diri 'ujub (merasa diri paling benar), suka pecah belah, tidak mau bersatu. Akibatnya menjadi penyakit sosial.

Rasulullah Saw dibersihkan jiwanya dari kecil, sehingga predikatnya menjadi al-Amin, yang dikenal oleh setiap orang di jazirah Arab pada masa hidupnya. Jika ada seseorang menyebut al-Amin, ingatannya pasti kepada Muhammad (waktu itu belum diangkat menjadi Nabi), anak muda suku Quraisy yang sangat dipercaya. Di Indonesia, predikat al-Amin adalah suatu hal yang sangat langka. Begitu berjubelnya universitas untuk melahirkan ratusan ribu sarjana setiap tahun, tapi kebanyakan melahirkan orang-orang yang tidak dipercaya (tidak Al-Amin). Jangankan dipercaya oleh Allah SWT, antar manusia saja sulit dipercaya. Antara suami dan istri juga hilang kepercayaan.

Jadi untuk hamba ('abdun), orang yang dipercaya harus melewati tiga tahap.
1. Takhalli 2. Tahalli dan 3. Tajalli.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna) itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhannyalah mereka bertawakkal,(QS. 8:2)

Bagi umat Nabi Muhammad Saw, bagaimana caranya mensucikan hati (jiwa), ialah lewat mekanisme dzikir (latihan) yang dikerjakan secara teratur dan terbimbing.

Setelah suci batin (jiwa) kita dari penyakit-prnyakit ruhani, maka proses kedua untuk menjadi hamba (abdun) adalah Tahalli.

Orang yang berada dalam tahap 'tahalli' bila disebut Nama Allah, maka nama-nama Allah itu bersemayam dalam jiwanya. Gambaran orang seperti ini dirupakan oleh Allah dalam ayat berikut ini:

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. (QS. 17:109)

Setelah ia berada dalam tahap Tahalli, dengan penjiwaan yang dalam dan penuh khusyu', maka itulah yang dinamakan "Ihsan". Meningkat pada tahap ketiga, untuk menjadi seorang 'Hamba Allah yang diridhai-Nya", maka masuk ke dalam apa yang dinamakan Tajalli.

Di hari kiamat nanti, Allah tidak hanya jadi saksi dan hakim bagi kesalahan dan dosa-dosa kita, tapi juga diminta kesaksian kepada panca indra kita, mata kita jadi saksi, tangan kita jadi saksi, telinga kita jadi saksi, kulit, hidung, rambut dan seluruh tubuh kita bersaksi kepada Allah mengenai perbuatan-perbuatan kita :

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. 36:65).

Maka pada hari itu, kita tidak sanggup melakukan pleidoi (bantahan) di depan Allah Swt. Barangsiapa yang melangkahkan kakinya ke tempat ulama akhirat, diampuni dosa-dosanya. Itu akan menjadi saksi nanti di depan Allah Swt di akhirat.

Barangsiapa yang melewati tiga proses ini (Takhalli, Tahalli dan Tajalli), maka ia menjadi hamba Allah yang diridhai-Nya. Karena itu, untuk langkah ke depan, jangan lagi berinfaq yang banyak dengan menyebutkan nama (si Fulan dua juta). Tetapi gantilah dengan hamba Allah dua juta. Kalau hanya sepuluh ribu, barulah menyebutkan nama sendiri. Barulah terasa tawadhu' kepada Allah. Karena nilai 'abdun (hamba) itu begitu tingginya di hadapan Allah.

 

A A A